Monday, 16 January 2012

Jawapan Imam Abu Hanifah kpd golongan Atheis

IMAM ABU HANIFAH R.A menjawab pertanyaan para Atheis :

I. Bila Allah itu ada?

Atheis : Pada tahun berapa Robbmu dilahirkan?
Abu Hanifah : Allah berfirman: "Dia (Allah) tidak melahirkan dan tidak dilahirkan."
Atheis : Pada tahun berapa Dia berada?
Abu Hanifah : Dia berada sebelum adanya sesuatu.
Atheis : Kami mohon diberi contoh yang lebih jelas dari kenyataan!
Abu Hanifah : Angka berapa sebelum angka empat?
Atheis : Angka Tiga
Abu Hanifah : Angka berapa sebelum angka tiga?
Atheis : Angka dua
Abu Hanifah : Angka berapa sebelum angka dua?
Atheis : Angka satu
Abu Hanifah : Angka berapa sebelum angka satu?
Atheis : Tidak ada angka (nol).
Abu Hanifah : Kalau sebelum angka satu tidak ada angka lain yang mendahuluinya, kenapa kalian heran kalau sebelum Allah Yang Maha Satu yang hakiki, tidak ada yang mendahului-Nya?

Ada yg bilang ad -1,-2,-3....tapi tetep aja kn baliknya ke angka 1

II. Maksud Allah Menghadap Wajahnya

Atheis : Kemana Robbmu menghadapkan wajahnya?
Abu Hanifah : Kalau kalian membawa lampu di gelap malam,kemana lampu itu menghadapkan wajahnya?
Atheis : Ke seluruh penjuru.
Abu Hanifah : Kalau demikian halnya dengan lampu yang cuma
buatan itu, bagaimana dengan Allah Ta'ala, nur cahaya langit dan bumi?

III. Zat Allah SWT

Atheis : Tunjukkan kepada kami tentang zat Robbmu, apakah ia benda padat seperti besi, atau cair seperti air, atau menguap seperti gas?
Abu Hanifah : Pernahkah kalian mendampingi orang sakit yang akan meninggal?
Atheis : Ya, pernah.
Abu Hanifah : Semula ia berbicara dengan kalian dan mengge rak-gerakkan anggota tubuhnya. Lalu tiba-tiba diam dan tidak bergerak. Nah apa yang menimbulkan perubahan itu?
Atheis : Karena nyawanya telah meninggalkan tubuhnya.
Abu Hanifah : Apakah waktu keluarnya nyawa itu kalian masih ada disana?
Atheis : Ya, kami masih ada
Abu Hanifah : Ceritakanlah kepadaku, apakah nyawanya itu benda padat, seperti besi, atau cair seperti air, atau menguap seperti gas?
Atheis : Entahlahlah kami tidak tahu.
Abu Hanifah : Kalau kalian tidak bisa mengetahui bagaimana zat maupun bentuk nyawa yang hanya sebuah makhluk, bagaimana kalian bisa memaksaku untuk mengutarakan zat Allah Ta'ala?!!

IV. Dimana Allah SWT

Atheis : Dimana kira-kira Robbmu itu berada?
Abu Hanifah : Kalau kami membawa segelas susu segar ke sini, apakah kalian yakin kalau dalam susu itu terdapat zat minyaknya (lemak)
Atheis : Tentu
Abu Hanifah : Tolong perlihatkan padaku, dimana adanya Zat minyak itu
Atheis : Membaur dalam seluruh bagiannya
Abu Hanifah : Kalau minyak yang makhluk itu tidak mempunyai tempat khusus dalam susu tersebut, apakah layak kalian meminta kepadaku untuk menetapkan tempat Allah ta'ala?

V. Takdir Allah SWT

Atheis : Kalau segala sesuatu sudah ditakdirkan sebelum diciptakan, lalu apa kegiatan Robbmu kini?
Abu Hanifah : Ada pekerjaan-Nya yang dijelaskan dan ada pula yang tidak dijelaskan
Atheis : Kalau orang masuk syurga ada awalnya, kenapa tidak ada akhirnya? Kenapa di syurga kekal selamanya?
Abu Hanifah : Hitungan angka pun ada awalnya tapi tidak ada akhirnya
Atheis : Bagaimana kita bisa makan dan minum disyurga tanpa buang air besar dan kecil?
Abu Hanifah : Kalian sudah mempraktekkannya ketika kalian berada di dalam perut ibu kalian. Hidup dan makan-minum selama sembilan bulan, akan tetapi tidak pernah buang air kecil dan besar disana. Baru kita
lakukan hajat tersebut setelah keluar beberapa saat ke dunia.
Atheis : Bagaimana kebaikan syurga akan bertambah dan tidak akan habis-habisnya jika dengan dinafkahkan?
Abu Hanifah : Allah juga menciptakan sesuatu di dunia, yang bila dinafkahkan malah bertambah banyak,seperti ilmu. Semakin diberikan ilmu kita semakin berkembang dan tidak berkurang.

VI. Bukti Adanya Allah

Atheis : Perlihatkan bukti keberadaan Robbmu kalau memang dia ada

Abu Hanifah ra berbisik kepada khadamnya agar mengambil tanah liat, lalu dilemparkannya tanah liat itu ke kepala pemimpin orang atheis itu. Para hadirin gelisah melihat peristiwa itu, khawatir terjadi keributan, tetapi Abu Hanifah menjelaskan bahwa hal ini dalam rangka untuk menjelaskan jawaban yang di minta kepadanya. Hal ini membuat orang atheis mengenyitkan dahi.

Abu Hanifah : Apakah lemparan itu menimbulkan rasa sakit di kepala anda?
Atheis : Ya, tentu saja.
Abu Hanifah : Dimana letak sakitnya?
Atheis : Ya, ada pada luka ini.
Abu Hanifah : Tunjukkanlah padaku bahwa sakitnya itu memang ada, baru akan menunjukkan kepadamu dimana Robbku!

Orang atheis itu tidak menjawab tentu saja tidak bisa menunjukkan rasa sakitnya, karena itu adalah suatu rasa dan ghaib tapi rasa sakit itu memang ada.

Atheis : Baik dan buruk sudah ditakdirkan sejak azal, tetapi kenapa ada pahala dan siksa?
Abu hanifah : Kalau anda sudah mengerti bahwa baik dan buruk itu bagian takdir, mengapa anda kini menuntut aku agar di hukum karena melempar tanah liat ke dahi anda? bukankah perbuatan itu bagian dari takdir?

Akhirnya perdebatan itu berakhir dengan masuk Islamnya para atheis tersebut di tangan Al Imam Abu Hanifah Radhiallahu.

TERIMA KASIH TELAH MEMBACA
~NAJAH~

sedarlah insan

assalamu'alaikum buat sahabat-sahabatku.....
di sini ana nak share satu  video yang ana rasa perlu untuk kita muhasabah diri ini.....
bersama mengambil kata-kata dalam lirik yang terkandung....
bila ana dengar nasyid ini, sangat terasa diri ini sangat kerdil dengan dosa-dosa yang telah banyak dilakukan sepanjang nikmat umur yang dianugerahkanNya......

teman, hidup ini sangat singkat...
ana tahu anda semua insan-insan yang jauh sangat hebat berbanding diri ana ini.....
bersama muhasabah diri,
waktu untuk kita hidup sudah semakin singkat....
semoga kita terus thabat dalam perjuangan ini.....
doakan kebersamaan bersama..... 




Duhai insan sedarlah dirimu 
Ke mana akan pergi selepas hidup ini 
Sudahkah bersedia dirimu ke sana 
Membawa amal mulia atau dosa-dosa 

Di sana tangisan tiada guna 
Rayuan tiada diterima 
Jasad kesakitan menangung azab 
Atas perbuatan hidup di dunia 

Di sana tempat kita kembali 
Hamba yang berdosa akan dihukumi 
Hamba yang mulia akan dirahmati 
Sebagai anugerah dari Ilahi 

hasil tinta:
aini Q13  ^_^

Surat buat Sahabat Seperjuangan

Sahabatku,

Ingatlah ketika mana kamu menghayunkan langkah pertemuan ke kancah perjuangan ini, kamu tidak pernah dijanjikan dengan sebarang kemewahan dan keuntungan duniawi, sebaliknya kamu akan mewarisi segala mehnah perjuangan iaitu kesusahan dan penderitaan. Semuanya itu sebagai kayu pengukur untuk menentukan kejayaan kamu sama ada kamu akan terus bersama perjuangan ataupun sebaliknya. Ingatlah kata-kata seorang pendita Waraqah bin Naufal ketika wahyu pertama di turunkan kepada nabi (s.a.w) “ kaummu pasti mengusirmu”. Memang benar setiap nabi yang membawa risalah pasti menerima ujian dalam bentuk penyeksaan dari kaun sendiri. Namun begitu, keyakinan dan kepercayaan mereka terhadap Allah yang Esa tidak sedikit pun merubah keimanan mereka. Oleh itu, wahai pendokong risalah benamkanlah segala lipatan sejarah lalu itu dalam sanubarimu, biar ia terus membara dan membakar jiwa yang lemah dan agar nur jihad terpancar di dalam dirimu untuk bersama-sama sof mujahid.

Awas serta ingatlah.......
Mujahid dakwah memerlukan jutaan kesabaran dan pengorbanan kerana jalan yang dilaluinya pasti menempuhi duri dan ranjau yang kekadangnya kita rebah di pertengahan jalan. Dan ... sudah pastinya kita dilambai-lambai oleh tangan-tangan yang sasa yang bersedia menghayun ke badan lemah, pintu penjara, bilik kurung kecil yang tersedia ternganga, peluru maut dan tali gantung yang sedia menanti.

Fiman Allah taala yang bermaksud ; “Apakah kamu mengira akan masuk ke syurga sedangkan kepadamu belum datang sebagai apa yang diertikan oleh orang yang terdahulu daripada kamu iaitu mereka yang ditimpa kesengsasaraan, Kemelaratan dan kegersangan sehingga rasul bersama orang yang beriman mengatakan : Bilakah datangnya pertolongan Allah ? Ingatlah ...... sesungguhnya pertolongan Allah sudah dekat.

Wahai Sohibud Dakwah..........
Jalan menuju syurga bukannya mudah. Telah terbentang dalam lipatan sejarah pembuktian pengorbanan perwira-perwira mujahid yang terpaksa mengalir air mata darah serta nyawa sebagai tebusan sebagaimana yang berlaku kepada Hassan Al- Banna Syed Qutb dan pejuang-pejuang islam yang lain. Semua ini dilakukan semata-mata untuk mendapatkan keredhaan illahi dan kecintaan mereka terhadap akhirat yang menjanjikan kemenangan dan kemulian iaitu syurga yang mengalirnya sungai-sungai serta nikmat yang pelbagai lagi. Begitulah jika diteliti bagaimana Syed Qutb mengarang kitab “Fi Zilal Quran” yang terpaksa meringkuk dalam penjara api demi semangat jihadnya untuk mengajak menusia kwmbali kepada Allah meskipun berada dalam penjara. Antara lain beliau menyebut “ Aku sayangkan kitab ini. Aku menulis kitab ini dengan air mata darah, maka bacalah ia”

Kemudian perhatikan imam Ahmad Ibnu Hambal dalam menegakkan kebenaran di hadapan seorang raja yang zalim meskipun terpaksa menahan kesakitan akibat di pukul di belakangnya sehingga mengalir darah sebelum du humban de halam penjara. Namun beliau tetap bertegas, “ JIKA SEORANG YANG TAHU, DIAM KERANA HENDAK MENYELAMATKAN DIRINYA, MAKA ORANG YANG TIDAK TAHU AKAN TERUS TIDAK TAHU, BILAKAH KEBENARAN ITU AKAN DINYATAKAN”.

Mujahid Jamaluddin Al- Afghani pada abad ke -14 pernah menyebut “KETAHUILAH, SEKIRANYA AKU DI PENJARA, MAKA PENJARA ITU SEBAGAI TEMPAT AKU MENGHAMPIRKAN DIRI DENGAN ALLAH, JIKA AKU DIBUANG NEGERI, MAKA AKU BERPELUANG MELAWAT NEGARA LAIN, DAN JIKA DI BUNUH, MAKA SENTUHAN SYAHID YANG AKU CITA-CITAKAN”.

Justeru itu, marilah kita sama-sama menghadapi pahit getir perjuangan ini. Meskipun terpaksa mengadaikan jasad sebagai umpan untuk menyemarakkan lagi api perjuangan islam iaitu mati syahid, untuk mencari bedadari di dalam syurga yang sedia menanti dengan senyuman.
Inilah satu ganjaran yang paling manis dianugerahkan Allah pada hamba-hambanya yang berjuang di jalannya.

“Wassalam”

“ KHUSUS BUAT DIRI ANDA SENDIRI
DAN PEJUANG-PEJUANG ISLAM SERTA
MEREKA YANG BERCITA-CITA INGIN
MENJADI PENOLONG AGAMA ALLAH”

-copied from maktabah-